A. Pengertian produksi massal
Produksi massal, juga dikenal sebagai aliran produksi atau produksi terus-menerus, adalah sistem produksi dalam jumlah besar dari produk yang standar, termasuk dan terutama pada lini perakitan.
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Produksi_massal
B. Klasifikasi produksi massal
a. Berdasarkan wujudnya
Produk berdasarkan wujudnya dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok utama, yaitu:
- Barang. Barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat, diraba atau disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik lainnya.
- Jasa. Jasa merupakan aktivitas, manfaat dan kepuasan yang ditawarkan untuk dijual (dikonsumsi pihak lain). Seperti halnya bengkel reparasi, salon kecantikan, hotel dan sebagainya.
b. Berdasarkan daya tahan
Produk berdasarkan aspek daya tahan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
- Barang tidak tahan lama (nondurable goods). Barang tidak tahan lama adalah barang berwujud yang biasanya habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian. Dengan kata lain, umur ekonomisnya dalam kondisi pemakaian normal kurang dari satu tahun. Contohnya: sabun, pasta gigi, minuman kaleng, dan sebagainya.
- Barang tahan lama (durable goods). Barang tahan lama merupakan barang berwujud yang biasanya bisa bertahan lama dengan banyak pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian normal adalah satu tahun lebih). Contohnya: lemari es, mesin cuci, pakaian dan lain-lain.
Produk juga dapat diklasifikasikan berdasarkan konsumennya dan untuk apa produk tersebut dikonsumsi. Berdasarkan kriteria ini Fandy Tjiptono (1999:98-101) mengklasifikasikan produk menjadi:
a. Barang Konsumen
Barang Konsumen adalah barang yang dikonsumsi untuk kepentingan konsumen akhir (individu atau rumah tangga), dan bukan untuk kepentingan bisnis, barang konsumen dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu:
- Convenience Goods merupakan barang yang pada umumnya memiliki frekuensi pembelian yang tinggi (sering dibeli), dibutuhkan dalam waktu segera dan memerlukan usaha yang minimum dalam perbandingan dan pembelianya.
- Shooping Goods adalah barang yang proses pemilihan dan pembelianya, dibandingkan oleh konsumen diantara berbagai alternatif yang tersedia. Kriteria pembanding meliputi harga, kualitas, dan model masing-masing. Contohnya: alat rumah tangga, pakaian, dan kosmetik.
- Speciality goods adalah barang yang memiliki karakteristik atau identifikasi merek yang unik dimana sekelompok konsumen bersedia melakukan usaha khusus untuk membelinya. Umumnya jenis barang ini terdiri atas barang-barang mewah, dengan merek dan model yang spesifik, seperti mobil jaguar dan pakaian desain terkenal.
- Unsought goods adalah barang yang tidak diketahui oleh onsumen atau kalaupun sudah diketahui oleh konsumen, konsumen belum tentu tertarik untuk membelinya. Contohnya: batu nisan, ensiklopedi, dan tanah pekuburan.
b. Barang industri
Barang industri adalah barang yang di konsumsi oleh industriawan (konsumen antara atau konsumen bisnis). Barang industri digunakan untuk keperluan selain di konsumsi langsung yaitu: untuk diolah menjadi barang lain atau untuk dijual kembali. Barang industri dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:
- Material and part, merupakan barang yang seluruhnya atau sepenuhnya masuk ke dalam produk jadi. Kelompok ini dibagi menjadi dua kelas yaitu bahan baku serta bahan jadi dan suku cadang.
- Capital Items, merupakan barang tahan lama (long Lasting) yang memberi kemudahan dalam mengembangkan atau mengelola produk jadi.
- Supplies and service, merupakan barang yang tidak tahan lama serta jasa yang memberi kemudahan dalam mengembangkan atau mengelola keseluruhan produk jadi.
sumber:https://www.kajianpustaka.com/2013/09/pengertian-klasifikasi-dan-tingkatan.html
C. Cara menerapkan proses produksi massal
Penerapan proses produksi massal harus distandarisasi oleh interchangeable parts atau peralatan yang dapat digunakan untuk memproduksi barang yang sama dalam jumlah besar. Di sini, tahap perencanaan harus mencakup langkah - langkah kerja dan revisi terhadap langkah - langkah tersebut. Kemudian rencana itu dilaksanakan pada tahap implementasi, dan sekaligus dengan tahap pengendaliannya.
Berikut adalah tahapan - tahapan penerapan proses produksi massal yang sesuai dengan ketentuan.
- Tahap persiapan. Tahap ini didahului oleh kegiatan seperti perencanaan dan desain produk yang dihasilkan oleh kegiatan riset dan pengembangan
- Proses persiapan produksi yang terdiri dari kegiatan - kegiatan seperti perencanaan urutan - urutan proses sebagai berikut:
- Penjadwalan waktu
- Pemilihan peralatan
- Pengerjaan dengan perkakas
- Mobilisasi personalia
- Pembelian material
- Pembagian pekerjaan
D. Rancangan produksi massal
Perencanaan produk adalah proses menciptakan ide produk dan
menindaklanjuti sampai produk diperkenalkan ke pasar. Selain itu, perusahaan
harus memiliki strategi cadangan apabila produk gagal dalam pemasarannya.
Termasuk di antaranya ekstensi produk atau perbaikan,distribusi, penambahan
harga, dan produksi.
Kesuksesan
ekonomi produk massal suatu perusahaan tergantung kepada kemampuan untuk
mengidentifikasi kebutuhan pelanggan, kemudian secara cepat menciptakan produk
yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan biaya yang rendah.
Hal ini bukan merupakan tanggung jawab bagian pemasaran, bagian manufaktur, atau bagian desain saja, melainkan merupakan tanggung jawab yang melibatkan setiap elemen perusahaan.
Dari sudut pandang investor pada perusahaan yang berorientasi laba, usaha pengembangan produk dikatakan sukses jika produk dapat diproduksi dan dijual dengan menghasilkan laba. Namun, laba sering kali sulit untuk dinilai secara cepat dan langsung.
Tahapan yang diperlukan dan haruslah dilakukan dalam kegiatan perencanaan produksi massal adalah:
- Pembuatan prosedur persiapan perencanaan pada proses produksi dan jasa. Seperti membina gagasan dan mendorong karyawan.
- Penyaringan gagasan yang bertujuan untuk agar proses produksi untuk mendapatkan gagasan yang terbaik dan tepat sasaran dalam proses pembuatannya.
- Analisis gagasan yang dimana menciptakan sebuah analisis terhadap gagasan pada operasi produksi dan juga jasa dari berbagai bentuk kegiatan usaha. seperti potensi jumlah permintaan produk, jumlah penjualan, jumlah pemasaran hingga profit margin produk.
- Pembuatan percobaan proses pembuatan produk. Dalam hal ini terbagi menjadi dua, yaitu tahap pengelolaan gagasan yang menjadi kegiatan konkrit, menciptakan hasil kegiatan produksi yang akan dapat dipertanggungjawabkan.
- Pengujicobaan produk yang akan memberikan gambaran terhadap wirausahawan untuk lebih luas dan memberikan gambaran akan kesalahan, kelemahan, dan resiko cacat.
- Tahap komersialisasi yang berfungsi untuk memberikan pengenalan terhadap produk yang telah dibuat sebelumnya kepada para konsumen dan juga pembeli dari berbagai macam bentuk usaha.
E. Tahapan produksi massal
1. Perencanaan
Proses koordinasi perancangan suatu proses produksi dan tahapan tersebut dapat menentukan produk apa yang bisa kita buat dan di kembangkan, berapa membutuhkan bahan, biaya dan jumlah pekerja yang dibutuhkan. Tahapan ini dapat di lakukan untuk perencanaan yang baik dari jenis serta kemampuan produsen.
2. Penentuan Alur
Penentuan alur adalah proses penetapan dan menentukan urutan produksi dengan tahapan ini ditentukan produksi mulai dari pengolahan awal bahan pembentukan dan penyelesaian sehingga mutu distribusi menjadi bagus. Dalam tahapan ini harus menentukan secara beraturan atau pekerja siap melakukan setiap pekerjaan.
3. Penjadwalan
Penjadwalan adalah proses memetakan suatu jadwal, penjadwalan produksi di lakukan dengan berdiskusi jam kerja dan lama setiap alur yang dibuat dalam peta penjadwalan kemudian akan dipecah menjadi lebih terperinci.
4. Perintah mulai produksi
Dispatching adalah proses menetapnya pemberian perintah. Setelah sudah dijadwalkan dalam dispatching akan dimasukkan dalam hasil perencanaan yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya.
Comments
Post a Comment